Sopan Itu Menjauhkan Marabahaya


Pernahkah Anda diberikan kembalian lebih dari semestinya ketika berbelanja?

Apa yg Anda lakukan terhadap kembalian lebih itu? Pura-pura bodoh dan menyimpannya? Atau memberitahukan kasir dan mengembalikannya?

Tentu jawaban setiap orang berbeda-beda.

Tetapi bagaimana jika kasir yg memberikan kembalian lebih itu bersikap tidak sopan, berlagak sombong, kasar kepada Anda, apakah Anda akan mengembalikan kembalian lebih itu?

Kebanyakan orang akan menjawab tidak dan tetap menyimpannya. Karena ini bukanlah soal jujur atau tidak jujur lagi tapi soal dihargai atau tidak dihargai.

Berapa sering Anda mendengar pernyataan, 'Aku ingin menjadi diriku sendiri, kenapa harus sopan atau lembut jika itu bukan diriku' atau 'aku lagi punya banyak masalah, jadi capek jika harus lembut dan sopan ke orang lain'

Ingin dihargai adalah sifat dasar setiap manusia. Alangkah egoisnya kita jika kita tidak menghargai itu.

Memang baik jika kita menjadi diri sendiri, tapi akan lebih baik jika kita menjadi lebih baik dari diri kita sebelumnya, bukan?

Setiap orang punya masalah dan itu bukanlah alasan yg mewajarkan kita bersikap kasar kepada orang lain. Justru bersikap lembut dan sopan akan menjauhkan kita dari beban atau ganjaran buruk.

Lebih Penting Fisik Atau Hati?


"Fisik atau hati ?", pertanyaan ini seolah sering ada di benak kita atau bahkan ditanyakan seseorang. Sebagian ya kita realistis saja, penampilan fisik itu penitng, namun hati juga harus baik dong, lalu mana yang harus didahulukan ?

Pertanyaan yang sama seperti, penting mana rumah atau jalannya ? 

Ya tepat sekali, keduanya sangat penting. Tanpa jalan kita tidak akan tiba di rumah, tanpa rumah kita hanya akan terus berjalan tanpa arah. Jalanan diibaratkan sebagai penampilan fisik. Jalan menuju rumah tidak harus besar atau indah seperti taman di dalam dongeng. Cukup jalan yang sederhana, aman, dan nyaman. Karena terkadang jalan setapak yang sederhana serta ditutupi sedikit ilalang adalah jalan menuju istana yang indah.

Lalu, rumah adalah hati. Dimana kita akan tinggal lama di sana, dimana kita mempercayakan apa yang rapuh dari kita untuk berlindung. Begitu tiba di rumah yang kita percayakan, kita seperti enggan beranjak. Karena kita tahu, di sanalah kita harus tinggal. Disanalah rumah yang harus kita jaga sebaik rumah itu menjaga kita. Sehingga ketika jalan yang biasa kita lalui mulai rusak, kita tidak akan mencari jalan lain, karena itu tidak menuju ke rumah. Kita akan memperbaikinya, atau bahkan tetap kita lalui dengan bahagia. Karena kita tahu, kita memiliki rumah.

Jadi, mana yang lebih penting, Rumah atau Jalannya ?

Usia Bukan Tolak Ukur Pengalaman?


'Kamu terlalu muda, tidak tahu apa-apa.'

'Masih muda aja belagu, apalagi nanti sudah tua.'

'Jangan sok tahu, kamu masih muda.'

Pasti semua pernah merasa diremehkan karena umur kita. 

Semakin muda seseorang, semakin sedikit pengalaman yang dimiliki. Apakah benar?

Tentu benar, semakin tua usia kita semakin banyak hal yg kita alami. Dan oleh karena itu membuat kita semakin berpengalaman dengan hidup ini.

Tetapi pengalaman apa yg didapatkan dan apa yg dipelajari itu yg sebenarnya lebih penting. Saya dan Anda dapat mengalami keadaan yg sama tetapi belum tentu pengalaman atau pelajaran yg didapat itu sama.

Tidak salah jika orang yg lebih tua bilang kita masih muda kurang pengalaman. Tetapi akan salah jika mereka menganggap pelajaran hidup Anda itu sedikit. 

Pelajaran hidup itu bukan hanya diperoleh dari pengalaman yg kita peroleh sendiri tapi juga pengalaman orang lain yg diceritakan, diajarkan, dibukukan dll.

Semakin banyak Anda mendengar, membaca, belajar dari pengalaman orang lain maka semakin banyak Anda memperoleh pelajaran hidup walaupun di usia kita yg masih muda. 

Jangan suka banyak bicara tetapi banyak mendengar dan belajar maka Anda akan lebih bijak dalam hidup.

Dan jika pun kita merasa sudah cukup tua, kita justru harus lebih banyak belajar dari orang muda. Ibarat rumah tua pasti membutuhkan perawatan lebih banyak dibandingkan rumah baru.

Mendingan Pelit Uang Daripada Pelit Waktu


Setiap orang pasti memiliki teman yang pelit. Kalau makan bareng ingin dibayarin, kalau pergi bareng ingin dianter jemput, kalau patungan beli hadiah gak mau bayar duluan, dsb.

Terkadang kita heran kenapa ada orang yg seperti itu. Sepertinya perhitungan sekali.

Tetapi sebaliknya, setiap orang juga pasti memiliki teman yang suka bayarin, suka anter jemput, seakan-akan gak perhitungan sama sekali. Biasanya teman seperti ini yang memang kaya secara materi dan banyak teman.

Tapi apakah pertemanan hanya sebatas itu?

Jika orangnya gak perhitungan pasti banyak teman tapi kalau orang yang perhitungan pasti temannya sedikit.

Memang kenyataan tersebut tidak dapat dipungkiri.

Tetapi satu hal yang jangan pernah lupa adalah waktu. Waktu tidak dapat dibeli ataupun kembali lagi. Jika teman Anda dengan rela menghabiskan waktu hidupnya bersama Anda, jangan dianggap sepele. Itu menunjukkan bahwa mereka menghargai Anda. 

Waktu juga menunjukkan prioritas. Jika dia pergi dengan Anda berarti Andalah prioritasnya pada saat itu. Bukan keluarga, bukan pasangan, bukan kerjaan, dll. Dan itu bukan suatu pengorbanan yang murah.

Memang lebih ideal teman yang menghabiskan waktu bersama kita juga orangnya tidak perhitungan atau pelit.

Tapi pelit itu bukan suatu kejelekan sebenarnya. 

Ada orang yang pelit karena memang mereka terbatas secara materi, jadi mereka memang tepaksa pelit untuk hal tertentu. Tapi tentu ada orang yang memang pelit karena lebih mementingkan uang daripada hubungan. Tinggal kita sendiri yang bisa menilai.

Mereka yang lebih sering menghabiskan waktu bersama Anda. Mungkin bukan berarti mereka gak ada kerjaan. Tetapi mereka lebih memprioritaskan Anda daripada kerjaannya.

Umbar Janji Pada Diri Sendiri


Orang yang berjanji sebenarnya mempertaruhkan kepercayaan orang lain kepadanya. 

Jangan suka mengumbar janji jika tidak ingin dihakimi.

Janji bukan untuk diumbar agar semua orang mendengar, tetapi diberikan dari hati untuk ditepati.

Yang paling baik adalah berjanjilah pada diri sendiri untuk menjadi lebih baik walaupun janji itu tidak dikumandangkan tetapi janji itu harus tetap dipegang sebagai komitmen untuk hidup lebih baik.

Memang tidak gampang untuk memegang janji diri sendiri, karena tidak ada hukuman ataupun orang yg mengingatkan. Tetapi justru itu kita melatih diri sendiri agar disiplin dan hidup dalam komitmen.

Dan pada akhirnya, Anda akan merasakan janji pada diri sendiri itu tidak lagi sebagai beban tapi sebagai kebiasaan.