Perjuangan Cinta Bertepuk Sebelah Tangan


Pernahkah kau mengalami, mencintai seseorang namun hanya mampu menatapnya dari jauh. Melihatnya tertawa, berjalan, atau bahkan menggandeng pasangannya. Dengan hati teriris sedih, berharap bahwa kau yang ada di sebelahnya. 

Cinta bertepuk sebelah tangan?? Yap. Orang bilang itulah istilahnya. Hanya bisa memendam sendiri, tanpa mampu mengutarakan. 

Mengapa cinta yang kau rasakan tak mampu kau utarakan? Ada yang merasa minder, malu, ada yang merasa si dia pasti tak mau. Kau mulai merasa dirimu tak pantas. Apakah itu benar? 

Tak baik jika kita menganggap diri kita tak pantas bagi orang lain. Kau harus memiliki rasa percaya diri demi kebaikan dirimu sendiri. Jika memang kau serius dengan perasaanmu, berjuanglah untuk mendapatkan hatinya. Beranikan untuk berjuang dan berusaha. Sekuatnya. Setelah kau berjuang, dengan kepercayaan dirimu, utarakanlah. Setiap manusia memiliki hak untuk didengarkan dan mendengarkan. Kau memiliki hak untuk mengutarakan apa yang kau rasakan. 

Namun, utarakanlah secara baik-baik. Dengan ketulusan bukan dengan tekanan. Jika si dia merasa kaget dan tak dapat menerima, janganlah kau marah. Amarah hanya akan memperburuk keadaan dan membuat citramu buruk. 

Terimalah dengan senyum, dan seharusnya kau akan merasakan kelegaan karena akhirnya kau menyatakannya. Karena sesungguhnya, ketika kau telah berjuang dan berusaha untuk memenangkan cintanya, namun dia tidak menjadi milikmu, maka bukan dialah orangnya. 

Ada orang lain di luar sana yang saat ini sedang menantimu. Percayakah kau? Apakah kau sedang mengalami hal yang sama? 

Arti Sebuah Ciuman


Angin malam membawaku ke dalam sebuah lamunan. Lamunan tentang apalah arti sebuah ciuman. 

Ada banyak macam ciuman. Ciuman di pipi, ciuman di kening, sampai ciuman di bibir. Lamunanku berfokus pada ciuman pipi. Apalah arti sebenarnya. Ketika ciuman itu diberikan oleh teman, sahabat, pastilah itu akan hanya menjadi sekedar ciuman. Namun jika ciuman itu diberikan oleh orang yg kau sayang atau orang yang kau cintai diam-diam? Akankah itu berarti sesuatu? 

Lalu aku pun tersadar dan berpikir dengan jernih. Bahwa memang jika sebuah ciuman, walaupun itu hanya diberikan di pipi, namun jika yang memberi adalah orang yang kau taksir, maka itu akan berarti sesuatu. Namun jika tidak ada sebuah perasaan di dalamnya maka itu hanya sekedar ciuman. Tidak lebih. 

Berarti, kata kunci disini adalah perasaan. Perasaan yang mengendalikan kita. Perasaan yang membuat otak kita memilih apakah itu hanya sekedar ciuman atau lebih dari itu.

Pertanyaannya, jika orang yang kau taksir memberikan ciuman pipi untukmu, di saat kau sudah memiliki pasangan. 
Apa yang akan kau pilih? Sekedar ciuman atau lebih dari itu?? 

Ketika Ego Harus Dipertaruhkan


Cinta, pengertian, dan kasih sayang, adalah tiga hal yang penting dalam sebuah hubungan. Ketika hubunganmu diuji oleh banyak hal, seberapa kuatkah kau menjalaninya? Mempertahankannya? 

Apakah dalam sebuah hubungan keinginan pasangan yang didahulukan? Ataukah keinginan sendiri tetap dipertahankan? 
Tentunya jawabannya adalah tergantung. 

Tergantung pada kondisi yang terjadi. Keinginan pasangan didahulukan jika memang lebih penting dibandingkan keinginan sendiri. Jika keinginan kita hanya akan membuat hubungan memburuk, maka sebaiknya keinginan itu ditahan. Namun, sebelum memutuskan lebih baik dibicarakan terlebih dahulu.

Manusia selalu memiliki egonya masing-masing. Dan cenderung menginginkan untuk mendahulukan kepentingan dirinya sendiri. 

Saat kau telah memilih untuk mencintai pasanganmu setulus hati, maka ada pengorbanan-pengorbanan yang akan terjadi. Tentunya dengan sukarela. San harus diterima. Pengorbanan dengan keterpaksaan hanya akan memperburuk keadaan.
 
Kita tidak lagi mendahulukan kepentingan kita. Ada orang lain yang harus kita pikirkan. 

Lebih banyak lah bicara dengan pasangan dari hati ke hati. Jika memang keinginan dirimu baik bagi pasangan maka tidak ada salahnya dilakukan. Tentunya pasangan pun akan mengerti. 

Inikah mengapa di dalam hubungan harus dilandasi cinta, pengertian dan kasih sayang.

Perlukah 'Me Time' Dalam Hubungan?


Matahari pagi membawaku pergi terbang ke kota lain. Berpisah kembali sejenak dengan kesayangan. Ada rasa rindu menyusup ke hati, menemani perjalananku pergi. Seolah sudah lama tak bertemu.

Dalam sebuah hubungan, tak terhindar dari yang namanya perpisahan. Seperti istilah Long distance relationship. Banyak pasangan di luar sana yang mengalami hal ini. Mempertahankan cinta dan komitmen adalah sebuah perjuangan yang dibutuhkan. 

Baikkah sebuah hubungan LDR? Atau sebuah hubungan yang mengalami banyak 'perpisahan'? 'Perpisahan' di sini berarti salah satu dari pasangan lebih banyak berada di tempat lain dibandingkan bersama pasangannya. Mungkin untuk bekerja, ataupun aktivitas lain. 

Sejujurnya secara pribadi menurutku, sebuah hubungan tak haruslah bersama terus menerus. Pertemuan setiap hari, terkadang mampu membuat pasangan merasa bosan. Apalagi jika mereka baru berpacaran. Memang, setiap pasangan yang baru berpacaran seolah tak terpisahkan. Selalu ingin bersama. 

Lalu, bagaimana dengan hubungan LDR? Tidak ada yang salah dalam LDR jika kedua pasangan mampu mengikatkan komitmen mereka satu sama lain. Godaan sekecil apapun tak bisa menjadi alasan bahwa hubungan LDR ini tak bisa berjalan. 
Jika niat, pasti bisa. 

Dibalik peristiwa LDR, ataupun pasangan yg selalu menghabiskan waktu bersama, ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. 

Dari pasangan LDR, jauhnya jarak kedua pasangan, jarangnya pertemuan mereka, akan membuat kerinduan dalam diri mereka meningkat. Sehingga jika mereka bertemu akan menciptakan sebuah quality time yang sangat baik. Jika mereka saling berkomitmen, maka kesetiaan di antara keduanya tentulah sangat kuat. Karena kunci dalam LDR ini adalah kesetiaan. 

Begitu juga dengan pasangan yg suka bepergian. Jeda waktu yang diambil akan memberikan masing-masing pasangan waktu untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Sehingga tidak akan membuat ketergantungan satu sama lain. 

Pasangan yang selalu menghabiskan waktu bersama, tidaklah juga salah. Karena mereka akan semakin dekat, semakin dapat lebih mengenal sifat detil masing-masing pasangan. Tahap ini baik, bagi pasangan yang sedang dalam tahap akan menikah. Semakin sering bersama, semakin mengenal sifat-sifat baik buruknya.

Namun, lebih baik tetap diselingi waktu untuk sendiri, karena pada dasarnya setiap manusia pasti ingin memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Tidak semua harus dilakukan berdua.

Jadi, masuk dalam kategori manakah kamu??

Semakin Modern = Semakin Tidak Peduli


Hari ini aku menatap langit dari negeri seberang. Langit yang sama, awan yang sama, namun kesibukan yang berbeda. Kulihat orang sibuk berlalu lalang, berjalan, seolah mereka punya dunia sendiri. Seolah orang lain pun melakukan hal yang sama. 

Tak peduli. Itulah yang terlintas di pikiranku. Hal itulah yang aku lihat dari mereka. Seolah mereka tak peduli pada lingkungan sekitar. Bagaimana mereka mampu berjalan seolah hanya melihat jalan di depan tanpa melihat sekeliling. 

Aku mulai berpikir, mengapa mereka bersikap seperti itu. Apakah itu yang mereka inginkan? Mereka bersikap individualis. Seolah menutup diri. 

Apakah di saat manusia masuk ke dalam sebuah dunia modern, mereka akan bersikap individualis? 

Apakah itu yang sebenarnya mereka inginkan? Atau kah hal itu dapat terjadi akibat harapan mereka yang tidak sesuai dengan keadaan? 

Mungkin mereka berharap lingkungan sekitar dapat menjadi ramah. Namun terkadang, ketika masuk dalam sebuah dunia baru, lingkungan baru, kita dituntut untuk mengikuti lingkungan yang sudah ada. Terkadang memang kita tidak bisa untuk mengubah apa yang sudah menjadi sebuah kebiasaan. 

Intinya adalah beradaptasi, kita semua adalah individu yg unik. Ibarat piano, tidak akan melantunkan lagu yg indah jika hanya bermain satu not, justru jika bermain banyak not yg berbeda maka musik yg indahpun tercipta. 

Tak semua keadaan akan berjalan sesuai dengan keinginan kita. Tapi bukan berarti kita pasrah dengan keadaan, bukan juga berarti memaksakan keadaan. Tapi justru beradaptasi dengan keadaan untuk kebaikan kita dan sesama.