Dipojokkan Situasi


Pernahkah Anda merasa dipojokkan oleh situasi?
Memperhitungkan posisi tapi juga harus bergelut dengan konsekuensi..
Ingin mengikuti ambisi tapi tidak damai dengan hati nurani..

Tidak berdaya manusia dibuatnya.

Hidup memang tidak selalu aman terkendali..
Banyak hal yg harus dilalui dan dihadapi..

Percuma mengeluh dan menunggu dukungan..
Karena memang hanya kita yg tahu  jawaban..

Berhentilah menggantungkan diri Anda ke orang lain, dan ambillah tanggung jawab untuk diri kita sendiri. Selayaknya manusia yg hidup memang pasti pernah memiliki masalah. Jangan menyerah..

Berprasangka Itu Baik atau Buruk?


Seorang kakek sedang berjalan membawa kelapa dari pasar, lalu salah seorang tetangganya bertanya, "Buat apa kelapa itu Kek? Enak sepertinya?".

"Buat aku makan nanti setibanya di rumah, kelapa ini masih segar, tentu enak".

"Tapi mengapa kakek membawa tempurungnya juga, kakek kan tidak memakan tempurungnya". Kakek pun berbisik kepadanya, sang tetangga mengangguk lalu si kakek pulang ke rumah dan menyantap kelapa segar itu.

Sama seperti halnya dengan berprasangka. Apakah baik atau buruk? Berprasangka sama dengan kelapa itu, kita hanya memerlukan isinya, yaitu kejadian yang akan memang terjadi. Lalu mengapa kita masih tetap membawa tempurungnya yang tidak akan kita makan, seperti kisah sederhana di atas, si kakek berbisik, "Belum saatnya aku membuang tempurung kelapa ini".

Prasangka itu baik jika kita menggunakannya untuk persiapan diri, prasangka menjadi buruk jika kita hanya menggunakannya sebagai beban hati.

Menjadi Optimis Dengan Kisah Ini


Ada sebuah lubang yang dalam di tengah hutan. Siang itu seorang petani berjalan disekitar lubang lalu menghampirinya, ia melihat bungkusan kecil di dasar lubang itu dan penasaran akan isinya. Namun ketika ia menjulurkan tangannya, peti itu tidak terjangkau olehnya. "Ah lubangnya terlalu dalam, paling itu juga sampah", ia pun berlalu.

Tidak lama ada seorang pemburu yang juga tertarik dengan peti itu, ia menjulurkan tangannya "Terlalu dalam nih, kalau aku melompat ke dalam, nanti tidak bisa naik lagi", dan pemburu pun berlalu.

Matahari mulai tenggelam, seorang pengembara melalui lubang itu. Sama seperti perani dan pemburu, ia penasaran akan isi bungkusan tersebut. Ia pun menjulurkan tangannya, "Wah tanganku yang kurang panjang", ia pun mengambil sebuah ranting, dan berhasil mengambil bungkusan kecil yang kosong itu. Tidak lama kemudian Sang Raja keluar dari persembunyiannya, ternyata Sang Raja sedang mencari penasehat kerajaan. Pengembara itu pun terpilih.

Kisah sederhana di atas menggambarkan kebiasaan yang pada umumnya kita lakukan. Kita seringkali berfokus pada kesulitan tantangan yang sedang kita hadapi, seperti petani dan pemburu yang hanya menyadari lubang itu dalam. Cobalah lihat dari sudut pandang pengembara itu yang menyadari bahwa tangannya kurang panjang, dalam artian kita menyadari bahwa kita masih harus belajar, dan tantangan itu tidak mengganggunya, justru membuatnya mencari solusi terbaik.

Tidak Ada Waktu Untuk Mengatur Waktu


Setiap orang memiliki waktu yang sama, 24 jam sehari. Tetapi kenapa ada yang lebih sukses dan ada yg tidak.

Setiap orang pasti tahu, kita harus memanfaatkan waktu dengan baik. Tidak menyia-nyiakan waktu yg diberikan.

Jika kita menghabiskan waktu mencari cara yang tepat untuk mengatur waktu, mengatur prioritas maka justru kita akan kehabisan waktu. Jadi tidak perlu lagi cari cara mengatur waktu.

Kuncinya hanya lakukan apa yg perlu dilakukan dan jangan lakukan apa yg tidak perlu dilakukan. Hal sederhana jangan dibuat rumit, hal rumit harus disederhanakan.

Terima Kekurangan Diri Dengan Membaca Ini


Seorang pemuda penjaga rumah peristirahatan tuan tanah menemukan 2 buah ember yang akan digunakannya untuk menimba air di kaki bukit. Sudah jadi rutinitasnya setiap hari untuk melakukan kegiatan ini.

Ember itu terbuat dari kayu yang sama, dan berukuran sama. Namun salah satu ember mempunyai lubang kecil di sisinya. Pemuda itu pun rajin memetik bunga di sepanjang jalan untuk di taruh di vas bunga. Tuan tanah begitu senang, karena setiap hari ada bunga harum yang segar untuk dinikmati. 

Sore itu si ember yang berlubang mengeluh ,"Wahai tuanku, aku merasa sedih ?".

"Mengapa ?", balas Si Pemuda.
"Lihatlah aku ini berlubang, setiap kali kau mengambil air di danau. Aku tidak bisa memberikan sepenuhnya untukmu. Padahal engkau bersusah payah mendaki dan menuruni bukit untuk ini. Tidak seperti ember satu lagi yang tidak berlubang. Ia selalu bisa memberimu sepenuhnya air itu, sesuai dengan jerih payahmu".

Lalu pemuda itu tersenyum ,"Engkau selalu bersamaku, lihat tuan tanah kita itu tersenyum setiap kali memandangi bunga yang ku petik. Oleh karena itu juga aku masih bekerja disini. Bunga-bunga indah itu aku dapatkan di setiap jalan, di bagian kiri ku, dimana engkau ku letakkan. Air yang menetes darimu menyuburkan bibit bunga di sepanjang jalan, sehingga aku tidak perlu bersusah payah merawat bunga-bunga itu. Jadi janganlah engkau bersedih wahai emberku, karena sesungguhnya itu bukanlah kekuranganmu".

Seringkali kita selalu berfokus pada kekurangan diri, ini pun mengecilkan hati. Dari perumpamaan ember berlubang di atas, kita tahu,  bahwa sudut pandang positif bahkan memberikan banyak manfaat yang luar biasa.