Garam Yang Tidak Asin


Anda pasti pernah mengeluhkan tentang masalah yang selalu saja datang disaat yang tak terduga. Rasanya begitu tidak tepat, mengapa bukan ketika kita siap baru datang masalah tersebut ?

Itu karena kita memilih untuk itu. Seperti ketika kita meminta kesabaran, Tuhan akan memberikanmu cobaan untuk melatih hati agar bisa tenang. Ketika kita meminta kekayaan, terkadang Tuhan menunda sebentar berkahnya agar kamu tidak lupa kalau kamu pun sudah kaya sekarang, sehinga bersyukur dan tidak lupa dengannya nanti. 

Tiada pencapaian yang tanpa masalah, ini seperti Anda memakan garam. Anda akan merasakan asin. Begitu juga masalah dan kesukesan dalam hidup. Itu seperti garam dan rasanya, mereka adalah satu. Sama seperti masalah dan kesukesan, mereka pun adalah satu. Karena jika Anda berharap mencapai kesuksesan tanpa rintangan masalah, itu sama seperti Anda makan garam tapi tidak mau merasakan asinnya, tidak mungkin.

Menilai Buku dari Cerita Penulis di Balik Itu Bukan dari Sampulnya


Seringkali kita mengagumi kecantikan, keanggunan seseorang yang luar biasa sedap dipandang mata.

Kitapun sering melihat cermin dan berusaha membuat kita tampak lebih cantik atau ganteng.

Tapi sebenarnya kita melihat hanya sebatas apa yang bisa ditangkap mata. Dengan kemunafikan pun kadang kita mulai menilai seseorang dari apa yg kita lihat.

Di balik kecantikan, mungkin ada penderitaan seorang wanita yang harus memoleskan make-up setiap harinya.

Di balik kemolekan tubuh, mungkin ada penderitaan seorang wanita yang menjaga dan membatasi setiap asupan makanannya.

Memang sering kita mendengar 'don't judge the book by its cover' (jangan menilai buku dari sampulnya) tapi sebenarnya 'never judge the book because you don't know the author story' (jangan menilai buku karena Anda tidak tahu cerita penulisnya di balik itu)

Senyum yg indah itu menyembunyikan rahasia terdalam.
Mata yg terindah itu telah banyak mengeluarkan air mata.
Hati yg terlembut telah merasakan tersakiti.

Setiap Pasangan Yang Baik Harus Mengerti Ini


Ada seseorang yang sedang memerhatikan ayam dan bebek. Ia melihat bebek begitu lincahnya berenang di dalam kolam air, lalu ia ingin agar ayam menjadi bebek. Ia berpaling memerhatikan ayam yang sedang berkokok dengan gagah, ia pun berharap bebek bisa seperti ayam. Namun bebek tidak akan berubah menjadi ayam, begitu juga sebaliknya. Seumur hidup ayam tetap ayam, dan bebek tetap bebek, mereka sudah dilahirkan menjadi seperti itu. Ia pun sadar bahwa yang bisa ia lakukan adalah membuat si bebek menjadi perenang yang lebih handal, si ayam berkokok dengan lebih baik.

Begitu juga ketika kita ingin pasangan kita berubah menjadi seperti si A atau seperti si B. Tidak akan bisa, karena ia sudah dilahirkan seperti dirinya sekarang. Kita seringkali hidup dalam keinginan-keinginan yang justru memberatkan hubungan asmara dengan pasangan. Seperti orang dalam perumpamaan di atas, kita hanya bisa membiarkan dia menjadi dirinya sendiri, dan fokus kepada diri kita sebagai penguat dan penghebat sehingga ia bisa menjadi dirinya sendiri yang terbaik

Cinta Bukan Rencana Manusia


Cinta bukan rencana manusia, seperti Anda merencanakan untuk jam makan. Meski tidak tersedia makanan, Anda akan memasak dengan bahan seadanya agar bisa makan. Namun tidak dengan jatuh cinta, karena meskipun setiap orang memiliki cinta yang baik dalam dirinya, Anda tetap tidak bisa berencana untuk kapan jatuh cinta.

Cinta adalah rencana mulia Tuhan untuk menghebatkan seseorang sehingga menjadi lebih baik. Maka cinta adalah persiapan. Mempersiapkan hati untuk bersabar ketika pasangan Anda nanti sedang marah. Mempersiapkan telinga yang tahan panas karena mendengar keluhan pasangan. Mempersiapkan diri menjadi lebih siap dan pantas akan rencana Tuhan.

Nyaman di Saat Tidak Nyaman


Kebanyakan orang bertanya apa kunci sukses? Kunci untuk menjadi lebih baik dari sekarang ?

Sebenarnya tidak ada kunci pasti mengenai kesuksesan itu sendiri. Kita lahir dan tumbuh dilingkungan yang berbeda, melihat kejadian dari sudut pandang masing-masing pribadi. Agar sukses dan memiliki hidup yang lebih baik, cukup dengan bisa nyaman disaat tidak nyaman.

Seperti seorang maestro meditasi yang bisa tetap konsentrasi dalam menjalani meditasi meski suasana sedang ribut, berbeda dengan seorang pemula yang harus berada di tempat yang sunyi senyap.

Menyamankan diri di saat tidak nyaman membuat kita jauh lebih banyak belajar, sekaligus melatih pikiran agar tetap berpikir tenang, dan hati tetap sabar menunggu. Nyaman disaat tidak nyaman bukanlah karakter atau sifat, tapi sikap. Maka berarti kesuksesan pun adalah tentang sikap, yang bisa dilakukan siapa pun. Seperti Anda memilih untuk tidur atau bangun.