Arti Mantan Untukmu


Hal yang selalu terkait dalam sebuah hubungan adalah pacar dan mantan. Kalau membahas tentang mantan, selalu tidak pernah hanis dibahas. Walaupun cerita selalu sama, seolah diri kembali ke masa itu dan mungkin bahkan masih dapat merasakan perasaan yang sama. 

Banyak orang tak bisa lepas dari sosok mantan, banyak orang juga yang menganggap mantan hanya sekedar kenangan di masa lalu. 

Ketika mantan hanya menjadi kenangan, dan kau memulai kehidupan baru lagi, dan pada akhirnya mencapai sebuah tahap pernikahan, apakah kau akan mengundang kembali mantan? 

Banyak kontroversi dan perselisihan, apakah mantan akan kembali diundang atau tidak. 

Pada dasarnya, jika memang kedua belah pihak menyetujui, tidak ada yang harus dipermasalahkan. 
Namun jika hal tersebut membuat sedih salah satu pihak, sebaiknya tidak perlu mengundang sang mantan. 

Jangan sampai hal kecil merusak indahnya pernikahan. Mantan hanyalah mantan. Kenangan masa lalu. Dan kau hidup di saat sekarang. 

Bagaimana dengan kau? Pentingkah mengundang mantan bagimu? 

Mengapa Kita Susah Berkomitmen?


Panasnya matahari membuatku tersenyum hari ini. Pikiranku memikirkan akan peristiwa yang terjadi belakangan ini. Dalam tahap hidup manusia ada sebuah tahap berkomitmen. Seperti halnya pernikahan. 

Ketika menjalani proses persiapannya, mayoritas berbicara akan terjadi banyak beda pendapat. Bahkan mungkin setiap hari. Ketika mengalami itu, hati kecil mulai berpikir tepatkah dia untuk saya? Atau bahkan ada yang langsung memutuskan dia tidak cocok dan memutuskan hubungan langsung. 
Benarkah itu terjadi? 

Menurut saya pribadi, jawabannya ya benar. Namun, itu memang sebuah proses. Bukan berarti setiap kau beda pendapat, bertengkar mulut, itu menjadikan dia bukanlah orangnya. Beda pendapat itu hal wajar. Apalagi jika dalam pernikahan masing-masing ingin pernikahannya seperti keinginan masing-masing. 

Sebaiknya, sebelum kau memutuskan untuk menikah, kau dan dia sudah terlebih dahulu melewati tahap 'perang dunia ketiga'. Apa itu? Maksudnya adalah, jika kau pernah marah sampai ke ubun-ubun, marah sejadi-jadinya, baru pada posisi ini kau berpikir mampu menerima atau tidak sikap pasanganmu. Jika memang menerima, maka kau lolos untuk masuk tahap pernikahan. 

Karena sesungguhnya dalam pernikahan, mungkin ada hal yang lebih besar yang dapat terjadi dibandingkan percekcok kan biasa. Jika dalam pacaran tidak bisa dilewati bagaimana saat menikah. 

Ketika kau berbeda pendapat, berselisih,dalam persiapan pernikahan, ambillah jarak sejenak. Berpikirlah dengan kepala dingin. Beda pendapat, perselisihan biasa hanya sekedar bumbu yang menjadikan kau dan pasanganmu kuat. Benar persiapan pernikahan melelahkan, begitu berat. Namun ketika semuanya selesai, maka kerikil-kerikil tersebut akan hilang dengan sendirinya. Percayalah pada perasaanmu, percayalah pada pasanganmu. 
Keraguan hal yang biasa terjadi, apalagi pada wanita. Namun itu hanya sejenak dan muncul akibat ketakutan berlebihan. 

Kembalilah berpikir pada alasan mengapa akhirnya kau memilih dia. 

Introvert vs Extrovert


Kisah malam ini bercerita tentang pertemanan. Mengapa tak persahabatan? Karena menurutku teman itu beda dengan sahabat. Bagaimana jika kau sedang dalam kondisi bertemu dengan orang baru.

Dengan teman baru. Jika mereka 'tidak ramah', dalam arti pendiam, bagaimana sikapmu? 
Jika bertemu dengan orang-orang yang membuat sikapmu tertutupi, apa yang akan kau lakukan. Diam sajakah?

Terkadang, kita pasti bertemu dengan orang baru yang terkadang memiliki sifat lebih dari kita atau kurang dari kita. Seperti yang kita tahu pribadi seseorang ada yang dinamakan introvert dan extrovert. Orang introvert lebih pendiam, cenderung tertutup. Pribadi extrovert cenderung lebih riang, supel dan mudah bergaul. 

Jika memang bertemu dengan kedua pribadi ini, dengan yang introvert, cobalah untuk tetap menggali dengan pertanyaan-pertanyaan. Jangan mengharapkan bahwa mereka akan menyeimbangi dirimu dengan kembali bertanya. Mereka terkadang hanya memberikan jawaban atas pertanyaan yang kau berikan. Mereka tidak memiliki banyak pertanyaan karena mereka cenderung diam, dan malu. 

Pribadi extrovert, tanpa kau sulit untuk mencari bahan pembicaraan, mereka mampu secara langsung bersikap terbuka padamu. Mereka memiliki segudang bahan pembicaraan. 
Bersikaplah ramah, sekalipun mungkin kau tak suka dengan orang tersebut. Sejujurnya pribadi extrovert adalah orang yang menyenangkan. 

Apapun pribadinya, sebaiknya kita tetap menerima dengan baik kedatangan orang baru atau teman baru. Bersikap ramah akan membuat pribadimu disenangi orang lain bukan?? 

Lebih Baik Bertahan Atau Melepaskan?


Sakit hati. Apa kau pernah mengalami? Bagaimana caramu melewatinya? Aku pikir semua orang pasti pernah mengalami sakit hati. Apapun konteksnya. Pacaran, keluarga, persahabatan. 
Ketika mengalaminya, seplah menusuk dada. Sakit sekali, hingga air mata akan mengalir. 

Dan pertanyaan dalam hati selalu terulang 'mengapa'? 

Mengapa harus seperti itu, mengapa harus seperti ini. Pertanyaan yang terus diputar hingga rasa sakit itu terlupakan sejenak. Apakah rasa sakit itu akan selamanya ada? 

Jawabannya tergantung pada diri sendiri. Ketika kita mengiklaskan semuanya, menyadari bahwa itu telah menyakiti kita, telah terjadi, maka ada sebuah pelepasan rasa sakit yang terjadi. Perlahan diri mulai menerima, dan waktu yang membantu menyembuhkan. 
Namun ketika kau fokus pada rasa sakit itu, dan berusaha untuk menghilangkannya secara cepat, maka sebenarnya rasa sakit itu masih ada dan tinggal. 

Begitulah prosesnya. Proses hidup, proses penerimaan atas semua yang terjadi. Karena sesungguhnya, waktulah kunci dari semua ini. Terkadang ada beberapa hal yang terjadi tanpa kita bisa kendalikan.

Bagaimana menurutmu? Lebih baik bertahan atau melepaskan? 

Prioritas Hidup


Langit cerah menghiasi pagi hari, menyongsong hari dengan keindahan. Namun sekelabut awan mendung terselip dalam hariku. 

Dalam hidup ini, begitu banyak orang yang datang dan pergi. Ada yg tinggal namun ada juga yang akhirnya akan menghilang. Seseorang yang tinggal pun tak akan abadi. Suatu saat dalam waktunya mereka juga akan pergi. Hidup ini terlalu singkat untuk meratapi kepergian orang lain. Hidup ini terlalu indah untuk diisi dengan hal-hal tak berarti.

Ketika kau memberikan perhatianmu, kasih sayangmu pada seseorang, namun mereka tak peduli, jangan buang waktumu. Itulah saatnya kau melepas mereka pergi. Jadikan lah mereka memori masa lalu. Hanya untuk dikenang.

Isilah harimu dengan orang-orang yang peduli akanmu. Karena berada di sekeliling orang yang peduli dan mencintaimu, membutuhkanmu, adalah hal terindah yang bisa kau dapatkan. Buatlah mereka yang peduli akanmu menjadi prioritas bagimu. 

Hidup itu terlalu indah untuk diberikan bagi mereka yang tidak peduli akanmu. Jadi, tentukan lah prioritasmu.